Selesai

engkau Saturday, January 21, 2017
Aku kira dunia akan berubah semenjak hari di mana aku memutuskan untuk meninggalkan egoku.
Setidaknya aku kira dunia akan menjadi cerah warna - warni, atau gelap,murung dan abu abu, pokoknya di dua titik yang ekstrim itu.

Tapi yang aku temui adalah,
biru yang makin biru
mendung yang makin mendung
hijau yang makin hijau
terang yang semakin terang

Aku kira dunia akan berubah semenjak engkau resmi meninggalkan mimpi - mimpi ku, setidaknya akan ada badai salju di Bekasi, atau gratis parkir sebulan di UI, atau bahkan undangan pernikahan Fifi.

Tapi yang menunjukkan diri padaku adalah
gosip dan fakta,
mimpi dan makna,
tugas dan tahta


Aku bisa merasa lagi tanpa menunggu perutku mulas mulas
Semua yang hadir jadi lebih jelas.

Sarah A.H.H
Selesai.
Selamat Ulang Tahun!

2:11 am

engkau Saturday, December 10, 2016
Malam ini aku tidak bisa tidur,
aku mencoba mencari frasa yang tepat untuk menulis tentang engkau lagi
Entah kenapa mawar itu tidak juga gugur
Padahal seharusnya ia tahu diri



Yang tidak disukai

daftar Thursday, December 01, 2016
Ia tidak suka rambut yang menyembul diantara kerudung hitam yang terlalu jauh ditarik kebelakang,
Ia tidak suka tali sepatu yang menjuntai tak diikat sempurna,
Ia tidak suka sampah yang berserakan,
Ia tidak suka makanan yang kamu sisakan,
Ia tidak suka kelas yang waktunya memotong adzan,
...
Akan selalu aku catat dan aku ingat daftar panjang tentang hal - hal yang Ia tidak suka ini
Karena mungkin belum saatnya
untuk mencari apa yang Ia sukai



Prasangka Buruk

engkau Sunday, November 20, 2016

Di matamu aku
Anak kecil
Bau tengik
Ingusan
Asal meracau
Tak punya risau
Gelagat malu malu
Pura pura tidak tahu
Menganggu
Sakit melulu


Pokoknya tidak relevan
Untuk engkau tulis di naskah buku harian
yang akan kau terbitkan tahun depan.



- Prasangka buruk 10 November
 2016-


sarahannida,
(panik sampai ubun - ubun, semoga besok baik baik saja.)

Prasangka Baik: Terhitung satu bulan

engkau Tuesday, November 08, 2016
7 November 2016
Terhitung satu bulan.

Akhirnya aku mengerti.

Dan realisasi ini bukan hasil berpikir satu hari, tapi dari sekian banyak perjalanan yang telah kuhitung dengan pertimbangan dari si empunya hati. Akhirnya aku mengerti.

Mungkin engkau sama sama mencari sesuatu di diriku seperti aku mencari sesuatu di dirimu. Sesuatu yang entah bentuknya apa, sesuatu yang mungkin hanya guratan asa. Sesuatu yang diharapkan menjadi pengharapan, mungkin.

Tapi kau sama seperti aku, yang kita cari masih belum ketemu. Mungkin ia masih tersembunyi diantara bola mata yang mengusik satu sama lain saat jauh dan menghindar saat waktu nya bercumbu.

Atau mungkin ia bersembunyi diantara doa doa tentang masa depan yang kau impikan malam itu, yang kau hela napas mu untuk sekadar bersujud memberi ampun mu, berharap yang akan jadi lebih baik dari yang lalu.

Atau mungkin dia tidak bersembunyi dimana - mana. Ia memang tidak ada.

Dan ketika kita sudah lelah mencari, yang tersisa hanya stiker gratisan line dan gurauan basa basi.

Maka dari itu aku akan mencoba benar benar berhenti menulis tentang engkau. Berhenti menulis tentang bagaimana aku mencoba membuat engkau menulis tentang aku. Berhenti menulis tentang perjalanan yang selama ini tujuan nya cuma satu. Berhenti menulis karangan cerita dimana segala kenangan ku ramu jadi masa depan yang semu.

Lalu mencoba lebih banyak menulis tentang diriku.


Prasangka Baik 7 November 2016 sarahannida

saking banyaknya beginian, kayaknya sebentar lagi jadi satu buku tentang engkau.

sebuah doa

engkau Friday, October 28, 2016
Aku membayangkan engkau menari - nari di antara pohon pohon rimba jua yang meranggas dan meringis membuat mu. Kau menengadah membentuk lengkungan tulus di bibir mu, menyapa matahari yang teriknya tidak memburu. Terang, tapi sejuk sekali hatimu. Angin yang membelai rambutmu itu pertanda aku cemburu, ingin juga berada disitu. Atau sekedar sekali - kali menjadi alasan penting di skala prioritas mu.

Aku membayangkan hamparan hijau dan biru menjadi cinderamata yang cukup bagimu, untuk berdiri berada di kala itu dan mengucap nama Tuhanmu. Dekat, tapi tidak terlalu dekat, jaga kakimu untuk tetap berada di langit kaki ibu, agar kau aman di pelukan kalbu dan cengkraman bebatuan di titik kulminasi mu.

Aku membayangkan hamparan sabana, masa depan dan awan yang gemuk membungkus langit, semua tentram di buaian bola matamu. Aku membayangkan lukisan sang Maha Cipta dalam jendela kecil yang nanti akan kau unggah dan buat seribu manusia cemburu. Aku membayangkan aku kebagian secuil cerita seru langsung dari mulutmu, kamis depan, atau sekedar dari laman tautan buatan seorang teman seperjuangan. Aku membayangkan kedapatan cinderamata darimu, untuk membalas malu ku yang tak mendengar bualan mu sore itu dan untuk tetap percaya kau akan pulang, keluar duduk di sudut pilu itu.

Dalam secangkir kopi yang kuseduh malam ini, juga yang kau hirup dan matang matang kau harap akan mengusir lelah kedinginan. Diantara ruang mu dan ruangan ku. Diantara kemungkinan mu dan kemungkinanku. Hadir teman baru yang dinamakan ketidakmungkinan kita

Secarik episode ke sekian di dalam halaman diari dedaunanku, mungkin tidak bisa mencapai penjuru dunia di petamu, tak mampu juga memapah beban dari kerikil di punggung ku yang terseok - seok mencoba mendaki pranata sosial (baca: social climbing), dan sesegeraku meramu keraguan untuk mempertimbangkan berhenti menulis tetang engkau,

Dan membiarkan doaku melangkahi puncak Annapurna.
Suatu saat nanti.

gurauan

engkau Tuesday, October 25, 2016
Dalam balutan selimut dan bau belum mandi, diantara dilema angka dan baca, diantara alunan gitar yang memekik percuma,

aku yang seharusnya menulis tentang bagaimana generasi kita tersaturasi oleh imaji, atau bagaimana media merepresentasikan kenyataan dalam konstruksi, atau bagaimana frekuensi dan variasi di distribusi

malah menulis tentang engkau.

(and yet,



you don't



even




exist)



sarahannida
besok uts statsos sama kamed
belum belajar sama
sekali
s a m a  s e k a li

"Ku Takut Alam Bebas"

engkau Thursday, October 13, 2016
Berawal dari dialog depan Auditorium Gekom, lalu mulai dikirim sebuah tautan menuju tulisan seorang senior, seorang pujangga, terhadap hal yang masih relevan bagiku sekarang, Comspire 2016.

Satu sentuhan di touchpad membuka mata, aku menahan waktu ku membaca dengan saksama setiap kata, karena belum pernah aku lihat sisi ini dari sang pujangga yang sehari harinya ku tarik dan ku jaili rambutnya yang kayak brokoli itu. Beberapa kali menahan tawa dan decak, karena membaca di sebelah maba- yang lagi ku susah payahi membuat PKM - K untuk limas- dan takut membuat dia hilang fokus. Waktu berlalu, aku enggan menutup jendela chrome saat aku menidurkan laptop ku (baca: sleep) dan sampailah pada waktu aku mengirimkan email tugas yang telat sekian jam ke kawan lama, jariku bergerak membaca lagi, mengurai fokusku lagi, lalu sampailah pada cerita - cerita lain, cerita cerita tentang alam bebas.

And that it strucks.. (like every little thing that strucks me so much this week)

Hidupku tidak kurang dan tidak lebih dari Depok, Jakarta, Bekasi. Tidak pernah ingin jauh jauh pergi dari jalur commuter line agar pulang ke Cakung atau Cawang bukan jadi masalah. Bergumul dengan bau polutan, bergumul dengan bau ketek bapak - bapak yang enggan bangkit dari duduk nya di sebelah kanan, bergumul dengan badan ibu ibu kegendutan yang menyesakkan badan ku yang kecil ini apabila kereta dari atau menuju Bekasi sudah bagai kaleng sarden yang isinya daging manusia kecapekan.

Bukan nya aku merindukan liburan, ya memang banyak rencana di agendakan, mulai dari jalan jalan kecil ke kebun raya bogor yang diburu buru agar teman baikku bisa pulang tepat waktu, sampai sukabumi yang penuh harapan akan rindu angin segar dan kau. Memang aku butuh jalan - jalan tapi bukan itu saja yang mau aku sesali disini.

Pencarian. Alam. Kegigihan. Aku tidak memiliki semua itu. Melihat cerita bagaimana orang - orang dikaruniakan cinta yang amat dalam untuk pendakian, peluh dan kerikil aku cemburu, dimana ya aku bisa menemukan dorongan kuat untuk hidup menikmati perjalanan seperti mereka? Kayaknya bangun pagi untuk kuliah saja malas nya setengah mati. Gigih membuka botol air kemasan aja tidak, minta bantuan siapapun yang lagi dekat dan kuat. Persistensi nol, tapi banyak obrol. Kelihatannya kuat tapi rapuh.


Hana pernah mengeluarkan becandaan tentang itu, "Kutakut alam bebas" ujarnya diikuti HAHAHA panjang dariku. Miris, melihat bagaimana itu justru jadi catchphrase paling relevan sedunia tentang aku, atau kau.

Aku bukan takut pada alam, aku hanya bukan penakluknya. Aku hanya butiran remah remah di bumi mencoba untuk bertahan semampunya, aku berharap aku bisa menikmati setiap anugrah Tuhan Yang Maha Esa, tapi mungkin duniaku bukan sebesar dunia, mungkin hanya dalam skala ombak yang mendesir dibawah matahari terik yang membuat foto terlalu terang dan tidak jadi di post di instagram, mungkin dalam balutan penginapan murah tempat main kartu bersama keluarga, mungkin dalam jalan antara teknik dan sastra yang menjadi tempat penuh tawa manusia manusia menstrim ketika sedang membicarakan kelakuan temannya, mungkin diantara taman bunga yang tidak jadi disinggahi lebih lama, mungkin diantara bilik kopi populer tengah kota, atau diantara buku - buku mahal yang jarang dijual di pasaran. Aku merana, mungkin aku tidak pantas untuk Alam. Pikirku sempit, dan rutin ku rumit. Dan Alam adalah tempat bagi mereka yang bebas.
**

Seperti perkara memiliki mu, aku tidak bisa memiliki alam. Setidaknya belum sekarang. Aku hanya bisa menikmati, mengaggumi hamparan hijau dan damai yang ia sebarkan walau hanya melalui jendela kecil layar jemari yang sarat like dan presisi.


Aku tidak bisa menyentuh kerikil pecah di kaki gunung dan menghirup dedaunan atau bunga edelweiss itu. Aku tak bisa memiliki karang putih yang kau koleksi setelah menyelami perambaian, atau merasakan hembusan angin terik matahari yang jingga semburatnya saat tenggelam.


Aku takut alam bebas, 
selayaknya aku takut pada kau


(belum seelesai)
sarahannida


Mencari

engkau Saturday, June 18, 2016


Aku masih mencari dimana aku bisa mencari mu
Disela – sela ruang udara antara gubahan para pujangga abad ini
Diantara baris baris puisi yang dibaca para penikmat seni
Diantara kalimat sendu yang kau unggah tiga belas bulan yang lalu
Diantara langit dan senyum malu malu mu



----------------------------------------------------------------------------------------------

Aku bisa menyangka, aku berlari ke tempat yang sama, ternyata, walau hari telah berganti bulan dan tahun berganti masehi.  Rapuh ku masih dalam ruang yang sama, mencoba keluar dari perandaian. Aku belum cukup dewasa, Aku belum belajar dari kesalahan yang lama. Aku hanya kembali memutar asa, kepada relung hati yang sama, ekspektasi yang sama, tingkah laku yang sama.
Aku berlari dari, lagi – lagi, ketakutan yang sama. Harusnya bukan pada kamu aku berlari, bukan?
Aku tidak seharusnya mencari dimana aku bisa mencari mu. Aku harusnya mencari diriku sendiri. Diriku yang tersebar di ratusan bit dan coin. Di antara kode asing dalam dunia ciptaan manusia. Bersembunyi dibalik mimpi buruk ku semalam yang membangunkanku seperti komentar rancu yang kau tinggalkan di halaman seseorang, yang menunggu kau hapus dan hilangkan dari dunia. Selamanya.

Apa mungkin aku menemukanmu? Bagaimana mungkin aku menemukan bagian dari dirimu yang aku cari ? Bagaimana mungkin menemukan hal yang hilang dari dirimu ketika kau tidak tahu bahwa kau kehilangan sesuatu? Apakah kau benar benar hidup, di diriku?



designspiration.net: https://picdit.net/2015/03/19/painter-zac-roz/


Unfinished diary
17 - 18 Juni 2016
Bekasi
sarahannida



Powered by Blogger.